Archive for the ‘Hindu di Bali’ Category

January 13th, 2012 By umaseh Posted in Hindu di Bali, Sekilas Info

Asta Kosala Kosali arsitektur bali

Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.

Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali. + Continue Reading

November 18th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

UPARENGGA perlengkapan yadnya

OM SWASTIASTU

OM AWIGN AMASTU NAMA SIDIEM
Pemahaman masyarakat tentang uparangga atau sarana upacara umat Hindu masih bersifat individual. Kami berusaha menganggkat tentang sarana upacara Umat Hindu agar perangkat-perangkat tersebut dapat dipahami generasi muda sebagai generasi penerus sehingga kelestariannya dapat berlanjut dari generasi ke generasi.

Dapat kami berikan makna dan pengertian uparangga sebagai berikut :
Uparengga berasal dari suku kata upa-re-angga, mengandung pengertian bahwa
upa = perantara,
re = raditya (sinar suci),
angga = wujud atau merupakan perwujudan Ida Sanghyang Widhi.
Jadi uparengga adalah semua bentuk perangkat upacara yang merupakan simbul perwujudan Sanghyang Widhi melalui kekuatan sinar suci-Nya.

Mudah-mudahan apa yang berusaha kami paparkan dan informasikan bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan agama.
Kami menyadari penulisan ini masih banyak kekurangan-kekurangan, semoga dengan pandangan-pandangan umat sedarma kami dapat menyempurnakannya lagi. + Continue Reading

November 10th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali, kupasan lontar

Arti posisi kepala saat tidur

Adat Bali dikenal memiliki banyak aturan, yang secara tidak langsung dan tidak sadar mengikat masyarakatnya, mulai dari pribadi perorangan, kelompok sampai aturan dalam membangun daerahnya. satu contoh kecil saja, yaitu sikap saat istirahat malam atau tidur. jangankan sikap tidur, tempat tidur bahkan bangunan yang boleh dijadikan tempat tidurpun diatur. katakan saja untuk ranjang untuk tidur, ada aturannya. secara umum, apapun yang dilakukan oleh manusia diatur, dalam hal ini; tempat istirahat. dalam sastra bali tempat istirahat ada 3, yaitu

  • Galar; istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  • Galir; istirahat untuk beberapa menit/pelepas lelah, yaitu dengan duduk dan bersantai
  • Galur; istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah balinya “mulih ke desa gede/gumi wayah” alias MATI + Continue Reading
September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.

Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.

Kerajaan ini bertempat di Jawa Timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan Patihnya bernama Gajah Mada. + Continue Reading

September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Segehan, persembahan penuh makna filosofis

Segehan, persembahan penuh makna filosofis

Kata segehan, berasal kata “Sega” berarti nasi (bahasa Jawa: sego). Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng (nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang atau janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya. dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.

Segehan artinya “Suguh” (menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan). + Continue Reading

September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Arak dan Berem, Miras (alcohol) yang juga bahan Upakara di bali

Arak dan Berem, Miras (alcohol) yang juga bahan Upakara di bali

miris sekali melihat di Bali, banyak sekali korban berjatuhan akibat minum arak metanol…

ceramah agama dari para sulinggih/pendeta dan dari buku2 agama mengatakan bahwa arak dan berem (minuman beralkohol) adalah “minuman Bhuta Kala”, yang dapat meimbulakan kemabukan, dan bukankah mabuk merupakan salah satu dari sad ripu yg harus kita kendalikan?

harus dipahami dulu apa itu Butha Kala,
Bhuta Kala berasal dari kata Bhuta yang artinya Kekuatan (Power), unsur-unsur alam kita ini. Bhuta dibangun oleh lima elemen yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu; + Continue Reading

September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali, Mutiara Veda

Apakah Caru, Segehan, dan Tawur ?

Apakah Caru, Segehan, dan Tawur ?

Mecaru (upacara Byakala) adalah bagian dari upacara Bhuta Yadnya (mungkin dapat disebut sebagai danhyangan dalam bhs jawa) sebagai salah satu bentuk usaha untuk menetralisir kekuatan alam semesta / Panca Maha Bhuta.

Mecaru, dilihat dari tingkat kebutuhannya terbagi dalam:

  • Nista ~ untuk keperluan kecil, dalam lingkup keluarga tanpa ada peristiwa yang sifatnya khusus (kematian dalam keluarga, melanggar adat dll)
  • Madya ~ selain dilakukan dalam lingkungan kekerabatan/banjar (biasanya dalam wujud tawur kesanga, juga wajib dilakukan dalam keluarga dalam kondisi khusus, pembangunan merajan juga memerlukan caru jenis madya
  • Utama ~ dilakukan secara menyeluruh oleh segenap umat Hindu (bangsa) Indonesia + Continue Reading
September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Bhuta Yadnya untuk Keharmonisan

Bhuta Yadnya untuk Keharmonisan

Bhuta Yadnya adalah yadnya yang ditujukan kepada Bhuta Kala yang mengganggu ketentraman hidup manusia. Bagi masyarakat Hindu bhuta kala ini diyakini sebagai kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang sering menimbulkan gangguan serta bencana, tetapi dengan Bhuta Yadnya ini maka kekuatan-kekuatan tersebut akan dapat menolong dan melindungi kehidupan manusia.

Adapun tujuan Upacara Bhuta Yadnya adalah disamping untuk memohon kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar beliau memberi kekuatan lahir bathin, juga untuk menyucikan dan menetralisir kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang disebut bhuta kala tersebut sehingga dapat berfungsi dan berguna bagi kehidupan manusia. + Continue Reading

September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Perkawinan Beda Agama

Perkawinan Beda Agama

Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi, seperti kecantikan fisik, derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani.

tentang perkawinan antar agama, bagi kita umat Hindu tidak dibenarkan, dalam Manawa Dharmasastra (Tritiyo ‘dhyayah) disebutkan bahwa;
Acchadya carcayitwa ca, sruti sila wate swayam, ahuya danam kanyaya, brahma dharmah prakirtitah” – Manawa Dharmasastra 3.27 (Tritiyo ‘dhyayah) + Continue Reading

September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Kawin Lari, salah satu alaternatif pernikahan Adat Bali

Kawin Lari, salah satu alaternatif pernikahan Adat Bali

Umat Hindu mempunyai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Hal ini tidak bisa diwujudkan sekaligus tetapi secara bertahap. Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa. + Continue Reading

September 29th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali, lintas sektoral

Pernikahan menurut pandangan orang Bali

Pernikahan menurut pandangan orang Hindu Bali

PENDAHULUAN

Sam jaaspatyam suyamam astu devah (Rgveda X. 85. 23)
Hyang Widhi, semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia.

Asthuuri no gaarhapatyaani santu (Rgveda VI. 15. 19)
Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan berlangsung selamanya.

Ihaiva stam maa vi yaustam, Visvaam aayur vyasnutam, kriidantau putrair naptrbhih, modamaanau sve grhe (Rgveda X. 85. 42)
Semoga pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan, mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu. + Continue Reading

September 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali, wariga & dewasa ayu

Cara memilih Dewasa ayu – hari baik ala nak bali

Cara memilih hari baik menurut tradisi di bali didasarkan pada perhitungan wariga dan dewasa. adapun perhitungannya lumayan rumit, sehingga jarang masyarakat bali yang hafal cara menggunakan wariga dan dewasa tersebut. tapi untunglah, dengan kelihaian seseorang dalam perhitungan wariga dan dewasa beliau menyusun wariga yang dimodifikasi kalender internasional yang kemudian dikenal dengan kalender bali yang sering dipakai masyarakat bali saat ini. orang tersebut adalah (alm.) Bambang Gde Rawi, kelahiran desa cemengon, yang penyusunan kalender tersebut diwariskan kepada keluarga beliau.

dalam setiap bulannya, kalender bali umumnya terdiriatas beberapa bagian penting, diantaranya;

  1. bagian kepala; yang berisi Nama Bulan dan Tahun (seperti normalnya kalender internasional)
  2. badannya; berisikan tanggalan (seperti kalender internasional) dan beberapa tanda, diantaranya; Titik merah artinya Bulan Purnama, Titik Hitam artinya Bulan Tilem/Mati; lingkaran merah artinya hari raya besar agama hindu dan tanggal merah untuk hari libur nasional.
  3. bagian lengan kanan; berisikan daftar istilah wariga berdasarkan tanggal, yang berisikan juga keterangan hari-hari baik melakukan kegiatan/usaha/yadnya.
  4. bagian lengan kiri; berisikan nama-nama hari
  5. bagian kaki; berisikan daftar hari raya agama, daftar Odalan/upacara pura-pura besar di bali serta beberapa hari baik lainya.

+ Continue Reading

September 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali, wariga & dewasa ayu

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannyva untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari. + Continue Reading

September 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Sembahyang, salah satu hakekat inti ajaran hindu

Sembahyang, salah satu hakekat inti ajaran hindu. Setiap orang yang mengaku beragama, ia pasti melakukan sembahyang karena sembahyan menurut ajaran agama bersifat wajib atau harus.

Sembahyang intinya adalah iman atau percaya sehingga semua tingkah laku atau perbuatan, pikiran dan ucapan sebagai perwujudan dalam bentuk “bakti” hakekatnya bersumber pada unsure iman (sraddha). Menurut kitab Atharwa Weda XI.1.1, unsur iman atau sraddha dalam agama hindu meliputi: Satya, Rta, Tapa, Diksa, Brahma dan Yadnya.

Dari ke enam unsur diatas, dua ajaran terakhir termasuk ajaran “sembahyang”. Sembahyang terdiri atas dua kata, yaitu; + Continue Reading

September 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Mantra dan do’a

Mantra dan do’a sering sekali agak bingung umat kita. Sering ada pertanyaan umat yang seperti ini

  • Apakah pengertian manta dan do’a sama?
  • Bila kita hendak maturan atau sembahyang, apakah harus mengunakan mantra atau do’a?
  • Bagaimana kalau tidak tahu mantra/do’a, apa bisa dengan menggunakan bahasa sehari – hari?

mungkin memalui artikel ini dapat memberikan penjelasan mengenai mantra dan do’a tersebut.

kalau dilihat dari asal katanya, kata mantra dari kata “man” (manana) yang berarti “berpikir/pikiran” dan “tra” (trana) yang artinya bebas dari keterikatan. Menilik asal – usul katanya, maka istilah mantra memiliki makna bahwa dengan mengucapkan mantra berarti seseorang telah memikirkan tenteang Hyang Widhi dengan pengharapan agar dirinya terbebas dari segala keterikatan yang membuat dirinya menderita. + Continue Reading

September 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah sangatlah penting dalam kaitannya dengan hubungan umat dengan Tuhan. Sering juga umat menanyakan bangunan/pelinggih apa saja yang mesti dibuat dalam pekarangan rumah tersebut. Menurut beberapa sumber, bangunan/palinggih yang harus ada didalam pekarangan rumah adalah sanggah dan tugu Pangijeng/penunggun karang. Berikut penjelasannya;

Sanggah / Merajan

Secara konvensional, pendirian suatu bangunan, apakah nantinya disebut rumah ataupun palinggih telah diatur sedemikian rupa di lontar asta dewa, asta kosala-kosali dan asta bhumi. Jika mengacu pada petunjuk lontar tersebut, maka pembagian peruntukan lahan selalu berpijak pada ajaran tri hita karana, dimana akan disediakan lahan untuk menghubungkan diri dengan tuhan (uttama mandala) dalam bentuk pendirian sanggah/merajan. Lahan untuk menghubungkan dengan antar sesama (madya Mandala) dalam bentuk perumahan. Dan lahan untuk berinteraksi dengan alam lingkungan (nista mandala) dalam bentuk teba lengkap dengan tanaman dan ternak peliharaan. + Continue Reading

September 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Penggak – bangkitkan budaya diskusi informal ala Bali

Penggak – bangkitkan budaya diskusi informal ala Bali

Pemikiran-pemikiran besar dalam masyarakat kerap kali muncul dalam diskusi kecil di sebuah tempat yang tidak resmi. Bisa disudut-sudut kota, warung kopi atau di pinggir jalan dengan komunitas masyarakat abangan/pinggiran. Dibandingkan dengan forum resmi seperti seminar, loka karya, siding-sidang dewan perwakilan rakyat dan sebagainya, kerap kali diskusi bersifat formal terbatas pada tata tertib, pakem, terbatas pada permasalahan (topik), terbatas waktu dll. Makanya melalui forum seperti itu akan menghasilkan gagasan atau rumusan seringkali terbatas. + Continue Reading

August 15th, 2011 By umaseh Posted in Hindu di Bali

Meningkatkan Pengalaman Beragama

Meningkatkan Pengalaman Beragama

Kuneng phala sang hyang aji kinewruhan,
haywaning sila mwang aacaara.
siila ngaraning swabhaawa, aacaara ngaraning prawrti
kawarah ring aji. (Sarasamuscaya 177)
Artinya:
Gunanya Sastra suci (Veda) itu untuk diketahui dan diamalkan dalam Siila dan Aacaara. + Continue Reading