Google+
Hotline : 0361 8757 377
SMS : 087 8600 65000
BBM : 297E702A
ym 2
Home » Blog » Dewata Nawa Sanga
Wednesday, January 16th 2013. Posted in Blog

Dewata Nawasanga

adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara /  Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa.

Dewata Nawa Sanga tidak sama dengan Sang Hyang Widhi

Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar.

Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar.

Istilah Deva sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dukemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) .

Dewata Nawa Sanga

Dewata Nawa Sanga

Berikut Nama Dewata beserta Posisinya dalam pangider jagat atau arah mata angin:

Dewa Iswara, Berstana dan menguasai arah Timur

Dewa Mahesora,Berstana dan menguasai arah Tenggara

Dewa Brahma,Berstana dan menguasai arah Selatan

Dewa Rudra, Berstana dan menguasai arah Barat Daya

Dewa Mahadewa, Berstana dan menguasai arah Barat

Dewa Sangkara, Berstana dan menguasai arah Barat Laut

Dewa Wisnu,Berstana dan menguasai arah Utara

Dewa Sambhu, Berstana dan menguasai arah Timur laut

Dewa Siwa, Berstana dan menguasai arah di Tengah (madya)

Senjata Dewata Nawa Sanga

Senjata Dewata Nawa Sanga

Geguritan Gunatama

Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut :
Bunga petak maring purwa, kembang jingga gnewan sami, sekar abang ring daksina, ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia, Bunga ireng ring utara, ersania birune sami, mancawarnane ring madia, punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar, to uningin, patute anggon padapa.

Geguritan tersebut berarti :
“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “