Google+
Hotline : 0361 8757 377
SMS : 087 8600 65000
BBM : 297E702A
ym 2
Home » Blog » Dewa Leak Bali
Tuesday, August 6th 2013. Posted in Blog

Dewa Leak Bali

Konsep ajaran agama Hindu khususnya pada teologi pastilah berpedoman Pada kekuatan Tuhan atau manifestasi-Nya. Kekuatan manifestasi tersebut terdapat beberapa sebutan kemahakuasaan beliau, seperti Bhattara/bhattari, Dewa-dewa, rerencangan, pepatih dan lain sebagainya, semuanya ini terdapat dalam teologi lokal suatu daerah.

Selain sebutan Tuhan secara khusus, Tuhan juga memiliki sebutan umum, seperti Tuhan mahakuasa, maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun dan lain sebagainya, berdasarkan sebutan tersebut Tuhan akan memberikan anugrah kepada siapapun yang berbhakti lebih khusuk dibandingakan orang lainya, sehingga Tuhan juga akan memberikan anugrah kepada umatnya, meskipun permintaan umatnya menyimpang dari ajaran agama, karena tujuanya agar orang yang disakiti lebih sadar menjalankan ajaran dharma, hal tersebut terdapat dalam beberapa lontar, salah satunya lontar kalatattwa:

dewa - dewa leak bali

kupasan lontar kala tatwa

kunang yan hana wang wruha ring pengastutyane kita wenang sira aweha kasidyan ta, sapamintanya yogya tuten den ta lawan sawadwan ta kabeh, apan ika wang sanak ta jati. Ki Manusa Jati, sira makaharan kamanusa jati. Ki Bhuta Jati juga wenang arok lawan bhuta kala Durga, Bhuta Kala Durga wenang arok lawan Dewa Bhattara Yang, karaning tunggal ika kabeh, sira manusa, siradewa, sira bhuta. Bhuta ya, Dewa ya, Manusa ya

Artinya:

Janganlah memakan yang tak patut dimakan, tetapi apabila ada orang tahu perihal pemujaan terhadap dirimu, maka kamu dapat memberikan anugrah kesidhianmu, apapun yang dimintanya engkau patut memberikanya bersama seluruh rakyatmu, oleh karena orang yang demikian itulah saudaramu yang sesungguhnya. Ia disebut sebagai manusa sejati, manusa sejati dapat bercampur dengan Bhuta Kala Durga. Bhuta Kala Durga dapat bercampur dengan Dewa Bhattara Hyang, karena semua itu adalah satu, ia adalah manusia, ia adalah dewa, ia adalah butha, bhuta adalah ia, Dewa adalah ia, manusia adalah ia.

Demikian sabda Bhattari Uma dan Dewa Siwa kepada putra beliau Bhattara Kala, kemudian diberi gelar Bhattari Durga, sebagai anugrah Bhattari Uma di muliakan di Pura Dalem, Sang Hyang Panca Mahabhuta nama Bhattara Kala yang lain, karena beliau sebagai dewa segala yang dahsyat dan beliau di puja di Pura Baleagung.

Bhattara Siwa bersabda,”Aum putraku, mulai saat ini engkau kuberi nama Hyang Kala, engkau patut tinggal di Desa Pakraman. Engkau boleh mengambil jiwa manusia ataupun binatang setiap tahun pada sasih kasanga, terutama menghukum orang berdosa, jahat, bersenggama tidak sesuai dengan sila-krama, dharma sasana dan agamanya.

Sabda Bhattara Siwa tersebut, memiliki makna terdalam, sabda tersebut berisikan ajaran tentang etika sebagai orang beragama, jika ditaati, maka manusia akan bahagia selamanaya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu seseorang yang merasa hidupnya menderita, mesti berintrospeksi diri, agar dapat hidup lebih baik lagi, siapa tahu penderitaan kita hadapi saat ini adalah karena ulah kita sendiri, menyebabkan Bhattara kala merasuk dalam diri kita sebagai manusia. Disamping itu di jelaskan pula siapapun yang datang hendak memohon anugrah pasti dapat dikabulkan asalkan permohonan dilakukan dengan kasih dan penuh bhakti, termasuk juga memohon kesidhian menerapkan Ilmu Leak dan menyakiti seseorang.

Menurut Ida Pandita Nabe Natha Ratu Bagus mengatakan Tuhan dalam wujudnya berbentuk sinar adalah maha pemberi dan pengasih, jadi ketika seseorang meminta sebuah penyakit untuk dikirim ke dalam tubuh orang lain, Tuhan pasti mengabulkan, asalkan dilakukan dengan penuh hati dan cinta dan karma tetap berjalan dan ditanggung dalam kehidupanya. Meskipun demikian tidak sembarang orang bisa disakiti, tentu orang tersebut memiliki kesalahan, berbuat jahat, berdosa, sehingga dengan adanya penyakit menyerang orang tersebut, diharapkan agar sadar dan tidak mengulangi perbuatanya lagi, inilah pesan moral luar biasa, yaitu mengajarkan orang untuk meminta maaf dan bertaubat.

Wujud anugrah Tuhan kepada umat, terdapat juga dalam kitab suci Bhagawadgitha, IX, 22, yaitu: Mereka yang hanya memuja-Ku saja, tanpa memikirkan yang lainnya serta dengan senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka-Ku bawakan apa yang mereka minta dan melindungi apa yang mereka miliki.

Agama Hindu mengenal manifestasi Tuhan yang disebut Dewa-dewa, Dewa ini merupakan sinar Tuhan yang menguasai alam semesta, diantara para dewa, sembilan dewa sangat terkenal dan sering disebutkan dalam beberapa teks ilmu Leak sembilan dewa itu disebut Dewata Nawa Sanga penguasa 9 penjuru mata angin. Dewata Nawa Sanga merupakan sembilan dewa utama dalam agama Hindu, beliau memilikiperan penting di dunia ini, seperti: menjadi guru dewa yang telah menurunkan berbagai ilmu pengetahuan kepada manusia, serta menuntun kita menuju moksa. Dewata Nawa Sanga merupakan penguasa arah angin dan menjadipelindung serta meberikan vibrasi kesucian di setiap hari. Dewata Nawa Sanga terdiri dari tiga kata,yaitu: Dewa berarti sinar suci Tuhan, Nawa berarti sembilan, Sangga berarti kumpulan. Jadi Dewata Nawa Sanga berarti kumpulan sembilan dewa utama dalam agama Hindu.

Dewata Nawa Sanga tersebut antara lain:

Dewa Iswara penguasa arah timur
Dewa Brahma Penguasa arah Selatan
Dewa Mahadewa penguasa arah barat
Dewa Wisnu penguasa arah utara
Dewa Maheswara penguasa arah Tenggara
Dewa Rudra penguasa arah Barat Daya
Dewa Sangkara penguasa arah Barat Laut
Dewa Sambhu penguasa arah Timur Laut
Dewa Siwa penguasa arah Tengah

Ajaran Ilmu Leak menurut Jro Dasaran I Nyoman Suadi mengatakan kekuatan Dewata Nawa Sanga ini merupakan kekuatan Tuhan yang menguasai alam semesta dengan kekuatan penjuru mata angin, kekuatan Dewata Nawa Sanga sering dipergunakan dalam berbagai macam yajna di Bali, bahkan dalam ilmu kediatmikan, ajaran Dewa dalam Ilmu Leak Bali ini sering dipergunakan untuk menambah kekuatan, sehingga semakin berguna ilmu yang sedang dipelajari, bahkan para pendeta di Bali pasti memakai kekuatan Dewata Nawa Sanga untuk melindungi diri beliau sebelum melaksanakan swadharmanya. Hal ini dibenarkan dalam teks Pudak Sategal.

kupasan lontar Pudak Setegal, Panugrahan Salwiring Gawe:

Iki Panugrahan Salwiring Gawe, sasantun jinah, 250, sasapan sasantun, konkoning Bhagawan Swakrama angrumakas salwiring gawe, aja ta mamiruda manusa iki, tadah sajin ingsun, tlas. Kasidyana mantra, reh ngranasika, ma.,” Ang Sang Hyang Candra Wisesa, Sang Hyang Prabangkara Wisesa, Sang Hyang Murti Jati Wisesa, Sang Hyang Siwa Pramana, Sang Hyang Kawisesa, saptha munggah ring ngelak-lakan ning ulun, bungkah ing atin ngulun, Ong Siwa muksah ring langit, Ong Bhatara Guru muksah mungguh ring Padmasana manik, dening dewata Nawasangha Iswara, Mahesora, Brahma, Ludra, Maha dewa, Singkara, Wisnu, Sambu, Siwa, Korsika, Garga, Metri, Kurusya, sang Pratanjala, Indra, Baruna, Yama, Kwera, Bayu Bajra Swarana, itinuting marga tiga jnanya, Ong Ang Mang, 3, kumdhap, bayunya ring tngen, muksa miber rin langit, masiluman dadi aku singa putih, umetu aku Sang Hyang Bhagawan Masnu,Ong Ong Ang Mang Sang Bang Tyi Dyi Pyi Kyi,3, wrda amarga ring ambara, putih ring arpanya, Ah, 3, Ong Mang Ung, 3, jeng, tlas

Dewa dalam ilmu Leak Bali sering dipergunakan dalam ajaran Pangiwa, seperti:

Yogan Hyang Siwa Andakaru,
Sang Hyang Siwa Tiga,
Sang Hyang Siwa Bhuwana,
Sang Hyang Raja Pinulah,
Sang Hyang Rampetagu,
Bhagawan Pu Ceranggah,
Sang Hyang Tukuping-bhuana,
Durga maya-maya,
Durga-werawa,
Sang Hyang Lingga Bhuwana,
Sang Hyang Durga Catur Wisesa,
Sang Hyang Mertyu Wisesa,
Sang Surya Ketu

Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat disimpulkan kekuatan para dewa juga terdapat dalam kekuatan Pangiwa yang merupakan ajaran ilmu leak bali. Hal ini menunjukan kekuatan para dewa tersebut, akan berguna dan bermanfaat asalkan sang pemakai mempercayai dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Hal ini menunjukan kekuatan para dewa, selalu dipergunakan karena kekuatan tersebut merupakan ciptaan Tuhan beserta manifestasinya, bertujuan agar manusia dapat sadar dan eling tentang adanya kekuatan besar lainya, selain dirinya sendiri. Jika seseorang tersebut mampu membuka rahasia alam semesta ini dengan sastra-sastra yang ada dan dipergunakan dengan baik tentu akan menambah kesucian kita, sehingga ilmu leak dapat mengantarkan manusia menuju kalepasan menyatu dengan Tuhan dan manifestasi-Nya.